Proses Terjadinya Stres dengan Model teori Hans Selye, GAS

Pengertian stres

    Istilah stres mengacu pada tekanan atau dorongan yang ditempatkan pada tubuh. Stres merupakan tekanan atau permintaan pada diri individu untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri. Dalam psikologi, sumber-sumber stres disebut stressorBanyak sumber stres terjadinya situasional dan psikologis, seperti stres yang berhubungan dengan pekerjaan, ujian yang akan dihadapi, terkait dengan keuangan keluarga, atau merawat anak atau terkasih yang sedang mengalami sakit. Namun, kita harus dapat membedakan mana stres yang positif dan stres yang negatif. Stres yang positif disebut eustress sedangkan stres yang negatif disebut distress. Eustress dapat membawa dampak positif bagi individu seperti semakin termotivasi untuk menyelesaikan tugas, menjadi pribadi yang disiplin, bahkan dapat meningkatkan motivasi berprestasi. Kebalikan dari eustress, distress yang terlalu sering atau terlalu sering dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti depresi, kecemasan, bahkan dapat menyebabkan gangguan fisik, seperti sakit kepala dan kelelahan.

Tahap-tahap terjadinya stres

    Setelah kita membedah definisi stres, selanjutnya kita masuk pada proses terjadinya stres. Proses terjadinya stres diambil dari teorinya Hans Selye, teorinya menjelaskan proses terjadinya sindrom adaptasi menyeluruh (general adaptation syndrome, GAS). Teori tersebut menjelaskan bagaimana stres bertahan dalam tubuh manusia. Model GAS menyatakan bahwa ketika tubuh terjadi stres, tubuh kita sama halnya dengan jam dengan sistem alarm yang tidak akan henti sampai energinya habis. 

    Gas terdiri dari tiga tahap: tahap reaksi waspada (alarm reaction), tahap resistensi (resitence) dan tahap kelelahan (exhaustion stage). Pandangan kita terhadap stressor yang muncul secara tiba-tiba (contohnya sebuah mobil yang menyalip mobil kita di jalan tol) dapat memicu munculnya reaksi waspada (alarm reaction), hal tersebut dapat dianggap sebagai pertahanan pertama tubuh terhadap stressor yang mengancam. Tubuh bereaksi dengan meningkatkan stimulasi tubuh dan memicu pelepasan hormon stres oleh sistem endokrin. Respon ini memicu dua pola yaitu fight or flight reaction yang di mana individu mendapatkan pilihan untuk melawan atau melarikan diri dari stres tersebut.

    Jika stressor stres bertahan, maka stres masuk pada tahap selanjutnya, yaitu tahap resistensi (resistence stage), atau tahap adaptasi. Hormon stres yang terus lepas tersebut tetap mengeluarkannya tetapi tidak pada tahap yang tinggi, seperti tahap reaksi waspada, selama tahap ini, tubuh mencoba untuk memperbarui energi yang telah digunakan saat stres (karena stres mengeluarkan energi yang banyak) dan memperbaiki kerusakan. Namun, apabila stressor stres masih bertahan maka tubuh masuk pada tahap terakhir GAS yaitu tahap kelelahan (exhaustion stage). Pada tahap ini, akhirnya tubuh kehabisan energi. Hal tersebut ditandai dengan kinerja jantung dan pernapasan kita menurun. Jika stressor stres masih bertahan juga, tubuh kita bisa membentuk apa yang disebut Hans Selye sebagai penyakit adaptasi (disease adaptation). Penyakit tersebut memiliki rentang yang beragam, mulai dari reaksi alergi hingga penyakit jantung, bahkan bisa kematian. Jadi jelas bahwa stres kronis dapat menyebabkan kematian dan masalah kesehatan fisik lainnya.

    Kurang lebih begitulah proses terjadinya stres dengan model teori Hans Selye, yaitu general adaptation syndrome, GAS. 

Referensi

Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., Greene, Beverly. Psikologi Abnormal, di dunia yang terus berubah. 2018. Penerbit Erlangga: Jakarta


Komentar