Gangguan Stres Pascatrauma (Posttraumatic Stress Disorder, PTSD)
Definisi Gangguan Stres Pascatrauma (Posttraumatic Stress Disorder, PTSD)
Umumnya stres teradi sebatas pada beberapa minggu setelah peristiwa traumatis terjadi, tetapi gangguan stres pascatrauma (posttraumatic stress disorder) adalah reaksi maladaptif (ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungannya) berkepanjangan yang belrangsung lebih dari satu bulan setelah peristiwa traumatis. PTSD menunjukkan simtom (karakteristik) yang serupa dengan stres akut, tetapi PTSD dapat bertahan dalam beberapa bulan, tahun, atau beberapa dekade, dan mungkin tidak berkembang dalam beberpa bulan hingga tahun setelah kejadian traumatis.
Banyak orang yang mengalami gangguan stres akut tidak semua berkembang menjadi PTSD. Dalam penelitian ditemukan bahwa peristiwa traumatis erat kaitannya dengan tentara di medan perang dan dikalangan korban pemerkosaan, korban kecelakaan fatal, serta kecelakaan lainnya; dan orang-orang yang telah melihat hancurnya rumah dan komunitasnya karena bencana alam, seperti banjir, gempa, longsor, atau bencana karena kelalaian manusia, seperti tabrakan kereta dengan pesawat.
Seperti gangguan stres akut, peristiwa traumatis yang berhubungan dengan PTSD melibatkan paparan langsung pada trauma yang melibatkan peristiwa yang menantang nyawa atau menyaksikan kematian, cedera fisik serius, atau kekerasan seksual; menyaksikan orang lain mengalami trauma; atau mengetahui bahwa teman dekat atau anggota keluarga mengalami insiden atau kekerasan yang memicu trauma.
Hubungan PTSD dengan Budaya
PTSD ditemukan dalam beberapa budaya. Tingginya tingkat PTSD ditemukan pada kelompok korban yang selamat dari gempa bumi dan badai di banyak negara, contohnya korban gempa bumi yang selamat di Pakistan tahun 2010, begitu juga di kalangan masyarakat yang mengalami peperangan, contohnya "lapangan pembantaian" perang Pol Pot pada tahun 1970-an di Kamboja, konflik Balkan pada tahun 1990-an, dan perang Irak. Faktor-faktor budaya mungkin berperan dalam menentukan bagaimana orang-orang mengatur dan mengatasi trauma dan juga kerentanan mereka terhadap reaksi stres traumatis serta bentuk-bentuk tertentu dari suatu gangguan.
Faktor-faktor yang mengambangkan PTSD
Para peneliti telah mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang dapat mengembangkan PTSD ketika dihadapkan dengan stressor (pemicu stres) traumatis. Beberapa faktor kerentanan berhubungan dengan peristiwa traumatis itu sendiri, seperti tingkat paparan trauma, sedangkan faktor lain berhubungan dengan seseorang atau lingkungan sosial. Paparan yang lebih langsung pada trauma menyebabkan lebih besar kemungkinan seseorang untuk mengembangkan PTSD. Anak-anak di daerah Gulf Coast Amerika Serikat yang lebih langsung terpapar badai Katrina rata-rata banyak menunjukkan lebih banyak PTSD daripada mereka yang tidak terlalu langsung terpapar. Orang-orang di dalam gedung ketika terjadi serangan teroris 9/11 memiliki kemungkinan dua kali lebih tinggi untuk mengembangkan PTSD daripada mereka yang menyaksikan secara langsung serangan tersebut dari luar bangunan. Dari 3000 orang lebih yang dievakuasi dari serangan Twin Towers, hampir semuanya (96%) menunjukkan beberpa simtom (karakteristik) PTSD dan sekitar 15% mengembangkan PTSD yang terdiagnosis dua sampai tiga tahun setelah bencana tersebut.
Faktor lain yang berhubungan dengan kemungkinan perkembangan PTSD adalah jenis kelamin. Walaupun pria lebih sering mengalami pengalaman traumatis, wanita memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengembangkan PTSD, kurang lebih dua kali lebih tinggi daripada pria. Namun, kerentanan yang lebih besar pada wanita terhadap PTSD mungkin lebih banyak berhubungan dengan besarnya kemungkinan wanita untuk menjadi korban kejahatan seksual dan usia mereka yang masih muda saat terjadinya trauma daripada dikarenakan jenis kelamin itu sendiri.
Faktor kerentanan lainnya berhubungan dengan faktor-faktor personal dan biologis. Faktor genetik yang terlibat dalam pengaturan respon tubuh terhadap stres tampaknya berperan dalam penentuan kerentanan seseorang terhadap PTSD di saat trauma. Peneliti juga melaporkan bahwa amigdala, yang berfungsi sebagai respon rasa takut tubuh, berukuran lebih kecil pada sekelompok veteran perang dengan PTSD dibandingkan dengan amigdala pada Veteran perang tanpa PTSD. Meskipun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut, temuan menarik ini merujuk pada kemungkinan faktor biologis yang bertanggung jawab karena dapat berkembang menjadi PTSD ketika berhadapan dengan trauma sementara yang lain tidak.
Faktor-faktor berhubungan dengan peningkatan kerentanan terhadap PTSD meliputi riwayat pelecehan seksual di masa kanak-kanak, kurangnya dukungan sosial, dan terbatasnya kemampuan coping (kemampuan untuk mengatasi masalah). Faktor-faktor kepribadian, seperti rendahnya tingkat self-eficacy dan tingginya tingkat antagonisme juga berhubungan dengan meningkatnya resiko PTSD. Orang-orang yang mengalami simtom-simtom tidak biasa selama atau segera setelah trauma, seperti perasaan bahwa sesuatu tidak nyata atau merasa ia melihat dirinya sendiri di dalam film ketika peristiwa traumatis terjadi, memiliki risiko yang lebih besar untuk mengembangkan PTSD daripada orang-orang yang berhasil mengatasi traumanya. Di sisi lain, menemukan tujuan atau makna dari pengalaman traumatis, contohnya percaya bahwa perang dilakukan demi keadilan, dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengatasi kondisi yang membuat stres dan mengurangi resiko PTSD.
Komentar
Posting Komentar