Perspektif teoritis serangan panik (panic disorder)

Perspektif teoritis serangan panik (panic disorder)

           Pandangan umum dari gangguan panik adalah serangan panik di satu sisi melibatkan kombinasi dari faktor-faktor kognitif dan biologis, kesalahan atribusi (kesalahan persepsi mengenai penyebab mendasar dari perubahan sensasi fisik) dan reaksi fisiologis di sisi lainnya. Individu yang mudah panik cenderung salah mengatribusikan perubahan kecil pada sensasi kecil pada sensasi internal tubuh dengan “penyebab penting yang mendasar”. Contohnya, mereka mungkin percaya bahwa sensasi pusing sementara, kepala terasa ringan, atau palpitasi jantung adalah tanda-tanda dari ancaman serangan jantung, kehilangan kendali, atau akan gila.

           Persepsi sensasi tubuh sebagai ancaman memicu kecemasan, yang disertai aktivasi sistem saraf simpatik. Di bawah kendali sistem saraf simpatik, kelenjar adrenal melepaskan hormon stres, epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin). Hormon-hormon ini meningkatkan intensitas sensasi fisik dengan meningkatkan detak jantung, tingkat pernapasan, dan keringat. Perubahan sensasi tubuh ini kemudian salah ditafsirkan sebagai bukti dari munculnya serangan panik, atau lebih parahnya lagi, sebagai hal buruk yang akan menimpa dirinya (Ya Tuhan, aku terkena serangan jantung). Kesalahan fatal dalam menafsirkan sensasi tubuh memunculkan sensasi ancaman, yang kemudian meningkatkan intensitas kecemasan, memunculkan lebih banyak gejala kebutuhan terkait kecemasan dan kesalahan tafsir yang lebih fatal sehingga membentuk sebuah siklus mematikan yang dengan cepat dapat berubah menjadi serangan panik yang luar biasa besar. Kesimpulannya, pandangan umum mengenai gangguan panik mencerminkan kombinasi dari faktor-faktor kognitif dan biologis, kesalahan atribusi (kesalahan fatal dalam menginterpretasikan sensasi tubuh) di satu sisi lain, dan reaksi fisiologis serta sensasi fisik di sisi lain.

        Perubahan sensasi tubuh yang memicu serangan panik dapat berasal dari berbagai faktor, seperti hiperventilasi (bernapas dengan cepat) yang tidak disadari, rasa nyeri, perubahan temperatur, atau reaksi terhadap obat-obatan tertentu. Atau faktor-faktor tersebut mungkin bersifat sementara, umumnya mengakibatkan perubahan kondisi tubuh yang biasanya tidak disadari. Namun, individu yang mudah panik dapat salah mengatribusikan petunjuk-petunjuk tubuh menjadi penyebab ancaman, berada pada siklus mematikan yang dapat mengakibatkan munculnya serangan.

Faktor Biologis

   Faktor biologis bukti yang mengindikasikan bahwa faktor genetik berkontribusi terhadap kecenderungan atau kerentanan seseorang mengembangkan serangan panik. Gen bisa menciptakan predisposisi atau kecenderungan, tetapi bukanlah suatu kepastian akan berkembangnya gangguan panik atau gangguan psikologis lainnya. Faktor-faktor lain juga memainkan peranan penting, seperti pola pikir. Contohnya, orang dengan gangguan panik dapat menyalahartikan sensasi tubuh sebagai tanda bahaya yang akan menimpanya. Orang yang mudah panik juga cenderung sangat sensitif dengan sensasi perubahan fisik mereka sendiri, seperti detak jantung.

        Dasar biologis dari serangan panik dapat melibatkan sistem peringatan internal yang sangat sensitif dan melibatkan bagian-bagian otak, khususnya sistem limbik dan lobus frontal, yang umumnya terlibat dalam respons terhadap petunjuk ancaman atau bahaya. Psikiater Donald Klein (1994) mengajukan berbagai model peringatan yang disebut suffocation false alarm theory. Ia menyatakan bahwa rusaknya sistem peringatan pernapasan di otak memicu munculnya peringatan palsu sebagai respons terhadap petunjuk-petunjuk minor kesulitan bernapas. Dalam model Klein, perubahan kecil dalam karbon dioksida di dalam darah, mungkin disebabkan hiperventilasi (bernapas dengan cepat), menimbulkan sensasi kesulitan bernapas. Sensasi sulit bernapas ini memicu peringatan sulit bernapas, memunculkan serangkaian simtom-simtom fisik yang diasosiasikan dengan serangan panik klasik: napas pendek, sensasi sesak napas, pusing, rasa ingin pingsan, meningkatnya detak jantung atau palpitasi, gemetar, sensasi kedinginan atau kepanasan, dan rasa mual.

           Peranan neurotransmiter lainnya yaitu asam gamma-amonibutirik (gamma-aminobutyric, GABA) merupakan neurotransmiter inhibitor, yang menurunkan aktivitas berlebih pada sistem saraf pusat dan membantu mengatasi respons tubuh terhadap stres. Jika aktivitas GABA belum cukup, neuron akan menembak secara berlebihan dan mungkin dapat membuat seseorang kejang-kejang. Pada kasus yang tidak begitu dramatis, kurangnya aktivitas GABA dapat meningkatkan kondisi kecemasan atau tekanan saraf. Orang dengan gangguan panik cenderung memiliki kadar GABA yang rendah pada beberapa bagian otaknya. Selain itu, obat anti kecemasan yang disebut benzodiazepin, yang meliputi Valium dan Xanax yang telah dikenal luas, bekerja secara khusus pada reseptor GABA. Obat ini membuat situs-situs penerimaan GABA menjadi lebih sensitif terhadap bahan-bahan kimia yang meningkatkan efek menenangkan yang dimiliki neurotransmiter ini.

Faktor Kognitif

       Sensitivitas kecemasan, atau takut akan rasa takut itu sendiri, melibatkan rasa takut akan hilangnya kendali emosi dan sensasi tubuh seseorang. Saat seseorang dengan kadar AS (anxiety sensitivity) tinggi mengalami tanda fisik terkait kecemasan, seperti jantung berdegup kencang atau napas pendek, mereka menganggap gejala ini sebagai konsekuensi buruk atau bahkan malapetaka yang menimpa dirinya, seperti serangan jantung. Pikiran buruk ini meningkatkan intensitas reaksi kecemasan mereka, membuat mereka lebih rentan terhadap siklus terbentuknya kecemasan itu sendiri, yang dapat menimbulkan  serangan panik berskala besar. Orang dengan tingkat sensitivitas kecemasan tinggi juga cenderung menghindari situasi di mana mereka pernah merasakan kecemasan di masa lalu, sebuah pola yang sering kita lihat pada orang dengan gangguan panik disertai agorafobia.

        Fakta bahwa serangan panik sering kali tampak terjadi begitu saja mendukung keyakinan bahwa serangan tersebut dipicu oleh faktor biologis. Akan tetapi, isyarat yang sering kali memicu banyak kasus serangan panik mungkin lebih bersifat internal, melibatkan perubahan sensasi tubuh, bukan stimulus eksternal. Perubahan petunjuk internal (fisik) yang kombinasikan dengan pemikiran buruk dapat menimbulkan siklus kecemasan yang berujung pada serangan panik.

Referensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses Terjadinya Stres dengan Model teori Hans Selye, GAS